Selasa, 05 November 2013

Cerita si Zicko #1

# Awal pertemuan

Nama panjangnya adalah Rinduwati Suliandara. Mba Rien, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru tari di Sanggar Tari Pelangi. Kino tak pernah tahu usia wanita itu yang sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja. Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tidaklah terlalu cantik. Tidak pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Rien memiliki mata yang sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik. Juga memiliki bibir yang -menurut Kino- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.

Waktu itu Zicko duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya, waktu itu Kino tergolong ’terlambat’ dalam soal pacaran. Ia tidak punya teman wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja. Konon ada yang naksir, namanya Alma, gadis dari kelas dua B. Tetapi zicko tidak tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi ZIcko, ia memang ratu, tetapi entah kenapa ia tidak tertarik. Berenang di sungai lebih menarik bagi zicko, ketimbang jalan-jalan dengan Alma.


Tetapi Mba Rien menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa. Waktu itu, zicko mengantar adik perempuannya, Susi, ke sanggar untuk latihan menari. Kino sangat sayang kepada adik satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik ini memang terlalu jauh). Dengan sepeda, diboncengnya Susi ke sanggar, dan diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia melihat Mba Rien, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya.

"Selamat sore, Susi," ucap Mba Rien menyapa Susi, lalu sekejap melirik zicko. Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir zicko sambil melepas gandengan tangan adiknya.

"Mba Rien, ini kakak saya." Susi menunjuk ke zicko yang masih berdiri di pintu ruang latihan. Mba Rien mengangkat muka, dan tersenyum kepada zicko
Agak canggung, zicko membalas tersenyum dan berucap serak, "Selamat sore, mbak."

Mba Rien hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Susi, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yang sedang bersiap belajar menari. Kino masih berdiri, memandang tubuh Mba Rien dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras. Tubuh Mba Rien menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yang menawan. Astaga, pikir
zicko, wanita ternyata bisa menarik juga!

Untuk beberapa jenak,
zicko masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa? Entahlah. Tetapi perjumpaan pertama dengan Mba Rien berbekas keras di kalbunya. Sambil mengayuh sepedanya pulang, zicko tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok. Gila kamu! tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa !  Dari mana datangnya ide gila itu? pikir zicko gelisah.

Ketika ayah memintanya menjemput Susi, dengan bersemangat
zicko mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari ruang latihan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Rien melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yang diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan zicko tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Rien, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yang indah! Selama ini, bagi zicko menari adalah kegiatan perempuan yang tak menarik. Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Rien mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya, Zicko menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya. zicko membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka zicko sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.

Dari ruang tari, Rien juga bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat
zicko duduk. Sambil terus menggerakkan tubuhnya, Rien melirik dan mengernyit heran melihat remaja itu betah duduk sendirian. Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang terlambat, dan tidak pernah berlama-lama di sanggar tari. Apalagi yang laki-laki, entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari bukanlah sesuatu yang menarik untuk pria. Makanya, tingkah zicko bagi Rien agak tidak biasa.

Ketika akhirnya latihan selesai,
zicko bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah. Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Susi keluar dan menghampirinya.

Rien, dengan sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Susi berlari ke arah penjemputnya, remaja yang betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu. Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang sebahu kini tergerai, Rien berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi juga cukup keras untuk didengar
zicko.

"Kenapa tadi tidak tunggu di dalam saja, Dik?" ujarnya.
zicko cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.

Rien tersenyum melihat seringai remaja yang tampak kikuk itu.zicko
menelan ludah melihat senyum itu. Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, zicko seperti disiram air sejuk. Gila kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi. Dan zicko pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Susi menuju sepeda. Rien kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yang akur itu meninggalkan sanggarnya.

***

Beberapa hari setelah perjumpaan pertamanya dengan
zicko, kembali Rien terheran melihat remaja itu sudah ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Rien dalam hati sambil terus menggerakkan badannya di depan para penari cilik. Berkali-kali Rien melirik ke arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu begitu betah menunggu adiknya. Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang ke dalam dengan seksama. Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Rien dalam hati. Tetapi, mungkin juga ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Rien dalam hati. Ia tersenyum sendiri ketika mengambil kesimpulan terakhir ini.

"Satu... dua... tiga... empat, putar..." Rien memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yang tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin.

"Satu... dua... tiga... empat, putar..." suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.

Zicko menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Rien sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yang berhubungan dengan wanita itu selalu bagus. Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Zicko, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Zicko merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dalam dirinya. Mengapa Mba Rien jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Alma yang seusia dengannya itu tidak semenarik Mba Rien, padahal Alma juga cantik. Zicko menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.

Cuma kali ini ia tidak melihat Mba Rien di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari, kemana gerangan wanita itu.
Zicko bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yang masih terjangkau pandangan. Mba Rien tidak ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari tape-recorder. Kemana dia?

Hampir copot rasanya jantung
Zicko, ketika tiba-tiba Mba Rien muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yang menghubungkan rumah itu dengan ruang latihan, yang tidak terlihat dari tempat Zicko duduk. Rupanya Mba Rien meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tidak melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Zicko, melenggang santai dengan kainnya yang ketat membungkus tubuhnya yang indah.

"Hayo, tunggu di dalam, Dik!" ucap Mba Rien menghentikan langkah sebelum masuk. Senyum yang memikat
Zicko terhias di bibirnya. Zicko menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi. Betul-betul seperti kera yang sedang kepedasan.

"Hayo," ajak Mba Rien lagi, lembut tetapi tegas.

Kino bangkit, dan dengan ragu-ragu melangkah mendekat.
Mba Rien tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk. Pelan-pelan Zicko menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Rien sudah berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya. Zicko mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yang cukup besar.

Rien melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Rien mendengar kata hatinya yang terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!

Selama 20 menit, Kino berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Susi terlihat senang melihat kakaknya sudah hadir. Berkali-kali Susi kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya.
Zicko mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Susi agar tetap serius. Rien tersenyum melihat tingkah keduanya.

Ketika akhirnya latihan selesai,
Zicko bernafas lega. Bukan saja karena ia sudah pegal berdiri, tetapi juga karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tidak? Sejak tadi ia terpesona oleh gerak Mba Rien, tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu. Betapa sulit! Rien berjalan mendekati Zicko sambil melepas stagen. Zicko berdiri kikuk ketika akhirnya Rien berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yang ternyata tidak mengganggu Zicko.

"Suka menari?" tanya Rien. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus.
Zicko menelan ludah lagi. Zicko menggeleng kuat. Rien tertawa kecil, "Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan."

"Saya... sebetulnya saya suka," ucap
Zicko tergagap.

"Oh, ya???" Rien membelalakan matanya yang indah, senyumnya mengembang lagi.
Zicko menelan ludah lagi. "Seberapa suka, sebetulnya?" tanya Rien lagi, ringan.

"Mmm, saya suka menonton saja." jawab
Zicko sekenanya.

"Menonton anak-anak kecil menari?" tanya Rien. Wah!
Zicko tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!

Rien tergelak melihat
Zicko tertunduk malu. Kini ia tahu apa yang sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Rien, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?

"Siapa nama kamu?" tanya Rien lembut sambil melepas ikat rambutnya.
Zicko mengangkat muka, melihat kedua tangan Rien terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yang mulus terlihat dari lengan bajunya yang agak tersingsing.

"Zicko," terdengar jawaban pelan. Rien tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yang ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Rien! sebuah suara terdengar di kalbunya.

Siksaan bagi
Zicko baru berhenti ketika Susi menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda.

"Datang lagi, yaaa!" seru Rien ketika Kino sedang bersiap mengayuh. Duh!
Zicko jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sudahlah! sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Rien memandang kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.

***

Demikianlah seterusnya,
Zicko semakin terpikat oleh wanita yang pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tidak usah menjemput Susi dengan alasan harus latihan bola kaki. Selama empat kali latihan, ia tidak mampir ke sanggar, dan tidak berjumpa Mba Rien. Dan itu artinya, sudah sebulan ia tidak melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama juga, ya?

Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yang cukup populer di kota kecil ini.
Zicko datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Zicko baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.

Di situlah
Zicko berjumpa lagi dengan Mba Rien. Saat band memainkan lagu ketiga, Zicko pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum. Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yang menuju tempat pemain berganti pakaian, Zicko melihat Mba Rien duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yang agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Rien, tetapi wanita itu tidak bisa melihatnya.

Rien memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan agak basah oleh keringat. Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin. Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun. Bagi
Zicko, Mba Rien tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju ke sebuah kamar di belakang panggung. Zicko mengikuti gerak-geriknya dengan seksama, aman dalam lindungan bayang-bayang yang gelap. Tak lama kemudian, tampak Mba Rien membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi. Berjingkat, Zicko berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalam ruangan itu.

Rien menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dengan jantung berdegup kencang,
Zicko melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yang ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis. Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yang tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Kino menelan ludah, dan menahan kagetnya. Di dalam, Mba Rien tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Zicko. Tubuhnya yang putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yang pantulannya terlihat dari tempat Zicko berdiri.  Lutut Zicko terasa bergetar.


Rien mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Rien.

Sementara itu, di depan panggung
Zicko gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yang dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah. Dengan alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yang keheranan.

"Ada apa denganmu,
Zicko?" tanya sobatnya, Dodi. Ia tidak menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan.

"Dasar kutu buku." gerutu Iwan, temannya yang lain.Zicko
tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.

 

***

 

Ketika Bara Memercik

 

Seminggu setelah peristiwa di belakang panggung itu, Zicko mengantar Susi ke sanggar Mba Rien. Sebelum berangkat, ia sudah bersumpah untuk tidak berlama-lama. Begitu sampai, ia akan segera melepas Susi dan kembali kerumah secepatnya. Kepada Susi ia telah pual berpesan agar tidak perlu diantar sampai pintu ruang latihan. Susi mencibir manja, tetapi tidak membantah ucapan kakaknya.

Namun semua rencana buyar ketika ternyata
Zicko berjumpa Mba Rien di gerbang halaman sanggar. Turun dari sepedanya, Kino tergagap menyampaikan salam kepada wanita yang tubuhnya memenuhi hayal Kino seminggu ini.

"Hai,
Zicko. Lama sekali kamu tidak kelihatan. Kemana saja?" sambut Mba Rien riang.

"Sibuk, mbak." jawab
Zicko menunduk. Adiknya sudah turun dan berlari masuk.

"Wah, begitu sibuknya, sampai tidak sempat menonton Mba Rien lagi, ya!?" sergah Mba Rien sambil tersenyum manis. Zicko menyahut dengan gumam tak jelas, dan menunduk seperti seorang pesakitan di hadapan polisi.

"Eh, tidakkah kamu ingin melihat adikmu menari lengkap?" ucap Mba Rien lagi, dan tiba-tiba tangannya telah menyentuh tangan
Zicko. Tergagap, Zicko menjawab sekenanya, tetapi entah apa isi jawaban itu, ia sendiri tak ingat!

"Hayo masuk, sekali ini kamu bisa melihat anak-anak menari sampai selesai!" kata Mba Rien yang kini sudah memegang erat satu tangan
Zicko dan menariknya masuk ke halaman sanggar. Zicko tak kuasa menolak, dan dengan kikuk ia mengikuti langkah Mba Rien sambil menyeret sepedanya.

Mba Rien tidak memakai kain sore ini. Tubuhnya dibungkus rok span hitam dan hem kuning muda dengan leher V yang agak rendah. Ia juga tidak berdiri memberi contoh di depan anak-anak, melainkan duduk bersimpuh di lantai, di sebelah
Zicko yang bersila. Dari tempat mereka duduk, Kino bisa melihat anak-anak menari lengkap tanpa instruksi Mba Rien. Bagi Kino, anak-anak itu kelihatan seperti daun-daun kering yang berterbangan di tiup angin. Jauh sekali bedanya dibandingkan dengan jika yang menari adalah Mba Rien.

Zicko melirik ke sebelah kanannya, tempat Mba Rien bersimpuh. Darahnya berdesir cepat melihat rok span wanita itu terangkat sampai setengah pahanya. Aduhai, pahanya mulus sekali, dihiasi bulu-bulu halus yang hampir tak tampak. Betisnya juga indah sekali, tidak terlalu besar, tetapi juga tampak kokoh karena sering berdiri lama ketika menari. Mba Rien sendiri sedang serius memperhatikan anak-anak menari, sehingga tidak menyadari bahwa remaja di sampingnya sedang sibuk menelan ludah!

Rien menoleh untuk menanyakan sesuatu, tetapi seketika ia melihat wajah
Zicko seperti kepiting rebus. Ah, ia tiba-tiba sadar akan posisi duduknya. Remaja yang sekarang sedang pura-pura memperhatikan tarian itu pasti tadi melihat rokku tersingkap, pikir Rien menahan tawa. Minta ampun, remaja sekarang begitu cepat matang! Rien membatalkan keinginannya untuk menanyakan komentar Zicko. Sebaliknya, ia malah bangkit membuat Kino memalingkan muka dengan wajah bersalah. Pikir Zicko, jangan-jangan ia tahu aku tadi melihat pahanya.

"Kamu mau minum,
Zicko?" tanya Mba Rien setelah berdiri, dan tanpa menunggu jawab ia berkata lagi, "Yuk, ikut saya ambil minum di ruang sebelah."
Zicko bangkit dan mengikuti wanita pujaannya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Entah kenapa, wanita ini tidak bisa kubantah! ucapnya dalam hati.

Ruangan itu terletak di sebelah ruangan latihan, berupa sebuah dapur lengkap dengan meja makannya. Ada sebuah lemari es besar, dan Mba Rien tampak sedang membukanya dan mengambil beberapa minuman botol.
Zicko berdiri tidak jauh di belakangnya, melihat dengan takjub tubuh yang agak membungkuk di depannya. Kepala Mba Rien tersembunyi di balik pintu lemari es, tetapi bagian belakang tubuhnya yang seksi terlihat nyata di mata Zicko. Gila! Segalanya terlihat indah! umpat Kino dalam hati.

Kemudian mereka minum sambil duduk di kursi makan. Mba Rien menawarkan kue, tetapi Kino menolak halus.
Mereka berbincang-bincang, atau lebih tepatnya Mba Rien bercerita tentang segala macam. Zicko lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Entah kenapa, Rien sendiri merasa semakin dekat dengan remaja di hadapannya. Rien merasa bahwa Zicko adalah adik lelaki yang tak pernah dimilikinya. Saudara kandungnya semua perempuan, dan tinggal di lain kota. Di sini ia hidup sendirian, di sebuah kamar indekos tak jauh dari sanggar.

Untuk Rien,
Zicko adalah remaja yang menyenangkan. Tidak berulah seperti kebanyakan remaja seusianya. Zicko juga sopan, walaupun matanya sering nakal. Ah, seusia itu pastilah sedang mengalami kebangkitan gairah seksual. Ia ingat, pada usia seusia Zicko dulu, ia juga mengalami ’revolusi’ yang sama. Saat itu, pikirannya tak lekang dari gairah seks dan lawan jenis. Zicko pastilah tak berbeda, cuma ia sangat sopan dan pemalu.

Sore itu mereka berpisah karena latihan menari telah usai.
Zicko mengucapkan terimakasih atas suguhan Mba Rien, dan Rien melambai di gerbang sambil mengucap, "Jangan bosan kemari ya, Zicko!"
Ah, bagaimana aku bisa bosan? ujar Zicko dalam hati.

***

Hubungan Rien dan
Zicko berkembang cepat bagai api membakar ilalang kering. Susi sudah tidak lagi latihan menari, karena kini ayah dan ibu menyuruh Susi lebih berkonsentrasi ke pelajaran sekolah. Ujian akan berlangsung tiga bulan lagi. Zicko tidak lagi mengantar Susi, tetapi justru kunjungannya ke sanggar semakin sering!

Ada satu hal yang membuat mereka semakin dekat. Keduanya suka berenang, dan Rien dengan senang hati mengajak
Zicko ke pantai jika waktu senggang. Seperti kali ini, Zicko pulang lebih cepat karena guru-gurunya harus berseminar di luar kota. Dari sekolah, Zicko menuju sanggar untuk melihat kalau-kalau Mba Rien ingin berenang. Dan ternyata Rien memang sedang tidak berkegiatan, sedang sendirian membaca-baca majalah di sanggar.

"Berenang yuk, Mba Rien." ajak
Zicko. Kini ia sudah berani mengajak duluan, setelah berkali-kali mereka berenang bersama di sungai, di kolam renang, maupun di pantai.

Selama itu, mereka berenang bersama-sama dengan beberapa orang lainnya. Kadang-kadang bersama Dodi dan Iwan, sahabat
Zicko. Kadang-kadang bersama Niken, salah seorang penari di sanggar. Teman-teman Zicko pun kini tahu, bahwa di antara Mba Rien dan Kino ’ada apa-apa’. Tetapi mereka cuma bungkam, karena Zicko pasti akan berang setiap kali topik itu diangkat dalam pembicaraan.

Siang itu mereka berenang berdua saja. Teman-teman
Zicko memilih memancing di danau di luar kota. Niken tidak ada di sanggar karena harus belanja ke pasar. Rien dengan senang hati menerima ajakan Zicko dan segera mengambil pakaian renang dan sepedanya.

Di pantai tidak banyak orang, karena ini memang bukan hari libur. Rien mengajak
Zicko ke sebuah bukit pasir yang dipenuhi semak, karena tempat itu jauh lebih sejuk di bandingkan tempat di mana orang-orang biasa berenang atau bermain pasir. Zicko menurut saja. Mereka pun lalu berenang, bermain-main air dan saling berlomba mencapai batu karang di tengah laut. Mba Rien bukanlah perenang yang dapat diremehkan, begitu selalu kata Zicko kepada teman-temannya. Tubuhnya gesit seperti ikan, dan tahan berenang berjam-jam.

Setelah puas berenang, mereka kembali berteduh di bawah semak-semak.
Zicko menggelar dua handuk lebar yang selalu dibawanya jika berenang ke pantai. Rien merebahkan tubuhnya yang penat di sebelah Zicko yang juga sudah tergeletak kecapaian. Mereka terdiam mendengarkan debur ombak memecah pantai. Zicko memejamkan mata dan merasakan otot-otot tubuhnya pegal dan sedikit linu.

"
Zicko," tiba-tiba Rien berucap, hampir tak terdengar.

"Hah?"
Zicko kaget dan setengah bangkit. Mba Rien masih tergeletak dengan mata tertutup, tetapi bibirnya tersenyum. "Ada apa, Mba?" tanya Zicko

"Aku mau tanya, tetapi kamu musti jawab yang jujur ya!" kata Mba Rien, masih memejamkan mata dan tersenyum. 
Zicko cuma diam.
"
Zicko, kamu senang melihat saya, bukan?" tanya Mba Rien pelan.
Zicko cuma diam, tak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya tergeletak seorang wanita dewasa, dengan tubuh sempurna, basah oleh air laut, dan bertanya seperti itu! Apa jawabannya?
Kino mengangkat muka, Mulutnya terkunci rapat. Rien tersenyum melihatnya, lalu dengan lembut digenggamnya kedua tangan
Zicko.
Tetapi di wajah itu ada sepasang mata yang sangat sejuk, bagai danau di kaki bukit tempat teman-temannya biasa memancing. Sebuah hamparan air yang tampak tenang meneduhkan hatinya yang bergejolak.

"Apa maksud Mba Rien?" ucap
Zicko tersekat.
"Senang?" tanya Mba Rien, masih dengan suaranya yang setengah berbisik, setengah menuntut. Zicko hanya bisa mengangguk dan menatap lekat mata Mba Rien, seakan-akan hanya dari kedua mata itulah ia bisa memiliki kekuatan untuk hidup saat ini.

Zicko merasa tubuhnya yang panas bagai bara dicelupkan ke dalam air dingin, segera memadamkan api yang tadinya sudah hampir membesar. Zicko menyelam sedalam-dalamnya, seakan-akan hendak bersembunyi dari rasa malu yang tiba-tiba mengukungnya. Tapi kemudian ia segera timbul kembali, segera bersemangat lagi mengejar wanita yang baru saja memberinya pelajaran sangat berharga dalam hidup ini. Aku telah dewasa! jeritnya dalam hati.

***

Pengalaman di pantai segera disusul pengalaman-pengalaman berikutnya.
Zicko kini sangat dekat dengan Mba Rien-nya, tetapi hubungan mereka menampakkan dimensi yang aneh. Jika ada orang bertemu mereka berdua, niscaya orang-orang itu akan berkata, 'Akur sekali kakak-beradik itu!'. Bahkan kedua orang tua Zicko memandang seperti itu, dan karenanya tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Rien dan anak mereka.

Sebaliknya, bagi Rien dan
Zicko, hubungan mereka telah memasuki babak yang sangat menentukan. Bagi Rien, kini Zicko adalah seorang lelaki sempurna, lengkap dengan segala atributnya, termasuk birahinya terhadap wanita. Zicko adalah sebuah kepompong yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Dan Rien adalah seorang peri yang membantu kupu-kupu itu terbang.

***

Enam hari menjelang masa sekolah, Alma menemani kedua orangtuanya ke ibukota, katanya hendak menjenguk kakek-neneknya. Inilah pertama kalinya Alma merasa perlu melaporkan kepergiaannya kepada Kino, karena sejak perkemahan dan ciuman pertama itu,
Zicko resmi menjadi kekasihnya. Seorang kekasih harus tahu kemana pasangannya pergi, bukan? Maka Alma menulis surat pendek, di atas kertas merah jambu, dan dikirim lewat kurir istimewa bernama Dodi dengan pesan wanti-wanti, "Jangan dibuka sebelum tiba di tangan Zicko!"

Zicko tersenyum membaca surat itu, sementara Dodi memanjang-manjangkan leher ingin mengintip isinya. Dengan seksama, dilipatnya kertas merah muda itu, dan disimpannya di dompet. Kepada Dodi, ia bilang bahwa Alma pergi ke ibukota untuk menikah dengan pria pilihan orangtua mereka. Dodi mencibir tak percaya, tapi Zicko tak peduli apakah temannya percaya atau tidak. Mereka lalu bersiap-siap berenang ke sungai, dan mengajak Iwan ikut serta. Sepanjang sore, mereka berlomba-lomba menyebrangi sungai, dan Zicko selalu menang. Kedua temannya terlalu ceking dan terlalu banyak bergadang.

Sepulangnya dari berenang, ketika Dodi dan Iwan telah terpisah darinya, Kino bertemu Niken. "Hai, apa kabar!" sergah wanita teman Mba Rien itu.

"Kabar baik," ucap
Zicko pendek. Sebetulnya ia ingin melanjutkan dengan pertanyaan tentang Mba Rien, tetapi Kino ragu apakah hal itu patut ditanyakan kepada Mba Niken.

"Tidak pernah ke sanggar lagi?" tanya Niken, entah kenapa
Zicko merasa wanita ini sedang menggodanya.

"Mmm, bukankah latihan tari belum dimulai lagi, dan Susi belum perlu datang lagi?" jawab Kino.
Niken tertawa kecil, "Maksudku, koq tidak pernah ngobrol dengan Mba Rien lagi, dia kan sudah datang!"

Zicko menelan ludah. Oh, Mba Rien telah pulang. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, pikirnya dalam hati. Lalu, entah kenapa ia akhirnya berjalan beriringan dengan Niken ke arah sanggar. Niken berceloteh entah tentang apa, Zicko tak begitu memperhatikan, karena kepalanya sibuk menjawab berbagai persoalan yang tiba-tiba muncul.

Sesampai di sanggar, Niken berkata bahwa ia hendak ke belakang dulu, dan bahwa Mba Rien ada di ruang latihan.
Zicko menggumamkan terimakasih, menjawab sekenannya, lalu berjalan ke arah ruang latihan. Langkahnya terasa berat, tetapi kaki-kakinya seperti digerakkan oleh mesin yang tak bisa dikendalikannya sendiri.

"Hei!
Zicko! Apa kabar?" suara Mba Rien yang lepas-nyaring terdengar begitu Zicko muncul di pintu ruang latihan. Zicko terpaku sejenak, matanya menyesuaikan diri dengan keremangan ruang latihan. Akhirnya ia melihat Mba Rien sedang menggelar tikar-tikar bersama seorang wanita lain yang tak dikenal Zicko.

Rien mendekat dengan cepat. Duh, kenapa ia jadi rindu kepada remaja ini? sergahnya dalam hati, tetapi ia tak mempedulikan perasaannya. Dipeluknya
Zicko sebelum pemuda ini sepenuhnya sadar apa yang terjadi, lalu dikecupnya cepat pipinya. Kemudian dilepasnya pelukan secepat ia mencium pipinya, dan diberondongnya Zicko dengan serentetan pertanyaan.

Zicko tergagap-gagap menjawab pertanyaan tentang ulangan, tentang liburan, tentang orangtuanya, tentang Susi, tentang... entah tentang apa lagi. Banyak sekali yang tak bisa dijawabnya. Mba Rien tampak bersemangat sekali, dan Zickobaru belakangan menyadari bahwa rambut wanita ini telah berubah pendek. Tetapi perubahan itu justru menambahkan kecantikan baru, karena lehernya yang jenjang dan mulus itu semakin terpampang indah, dan matanya yang bersinar itu semakin tampil.

Setelah mencencar dengan pertanyaan dan menyeret
Zicko untuk membantunya menggelar tikar-tikar, akhirnya Mba Rien mengajak Zicko ke tempat kostnya. Zicko hendak membantah, karena hari sudah mulai gelap. Tetapi, sebagaimana biasanya, ia tak pernah bisa menolak inisiatif Mba Rien. Lagipula ini malam Minggu dan sekolah belum lagi mulai. Zicko tadi sore telah mengatakan akan bermalam minggu bersama teman-teman, dan ayah-ibu telah mengijinkannya pulang paling lambat pukul 11. Maka akhirnya Zicko bertandang ke tempat kost Mba Rien.

Di tempat kost Mba Rien, tampak Mba Laras sedang berbincang dengan seorang pria berwajah tampan dan berpakaian rapi, mungkin pacarnya.
Zicko mengangguk sopan, dan Mba Laras mencubit pahanya sambil mengomel, mengatakan bahwa Zicko tidak adil karena hanya datang kalau ada Mba Rien. Pria yang sedang bersama Mba Laras bertanya, siapa si Zicko itu (usil juga dia!) dan segera dijawab bahwa Zicko adalah adik bungsu Rien. Pria itu menggumamkan,

"Ooo..." yang entah mengandung curiga atau percaya. Zicko tiba-tiba sebal kepada pria yang -harus diakuinya berwajah tampan dan berbaju cukup bagus untuk ukuran kota kecil.

Mba Rien mengajak
Zicko masuk ke kamarnya, dan Zicko tentu menurut saja karena Mba Laras juga mengusirnya dari ruang tamu ("mengganggu pembicaraaan," katanya). Di kamar, Mba Rien mengeluarkan sebungkus kue bolu oleh-oleh dari kakaknya, dan Zicko bersuka-cita melahap pengganan lezat kegemarannya itu. Mba Rien terus bercerita tentang kakaknya, tentang anak kakaknya, tentang kota yang terkenal dengan bolunya, dan sebagainya, dan seterusnya. Zicko, seperti biasa, cuma mendengar dengan seksama. Tetapi mata Zicko tak lekang dari Mba Rien yang bergerak lincah mengimbangi keramaian ceritanya. Ia seperti burung gelatik di pagi hari, pikir Zicko.

Lalu terdengar Laras berteriak dari kamar tamu, mengatakan bahwa ia dan teman prianya akan keluar untuk menonton. Mba Rien keluar sebentar dan berbicara dengan pria teman Laras itu, lalu terdengar pintu depan ditutup, dan Mba Rien kembali ke kamar.
Zicko sedang berdiri membuka-buka album foto di meja kerja Mba Rien yang dipenuhi majalah-majalah dan buku tentang tari-menari. Cantik sekali Mba Rien dalam foto-foto penampilannya. Ia memang penari yang kata orang penuh bakat, dan sudah pernah diajak tur keliling Indonesia oleh seorang sutradara tari dari ibukota. Zicko juga pernah mendengar bahwa Mba Rien diajak tur ke luar negeri, tetapi entah kapan realisasinya.

Zicko tersentak ketika merasakan nafas Mba Rien di tengkuknya. Tanpa terdengar, Mba Rien telah berdiri di belakang Kino, dekat sekali. Dengan ringan ia menjelaskan foto-foto di album itu, tetapi Zicko tak bisa sepenuhnya mengerti. Betapa tidak! Tubuh Mba Rien menempel di tubuhnya. Nafasnya harum memenuhi udara. Dadanya yang kenyal menekan punggung Kino, membuat pemuda ini tiba-tiba bersyukur bahwa Mba Laras dan teman prianya pergi ke luar rumah!
  Pukul 10 lewat seperempat, Kino akhirnya berpamit. Mba Rien berdiri di pintu depan memandangnya pergi. Zicko tak bisa melihat wajahnya, karena terlindung bayangan pintu, tetapi ia tahu Mba Rien tersenyum. Maka ia pun tersenyum sekali lagi, lalu berbalik menuntun sepedanya ke jalan raya. Gelap malam segera menyambutnya, merangkulnya dengan embun basah yang segar. Entah kenapa, Zicko merasa seperti seorang ksatria pulang dari medan pertempuran!


***

Itulah malam paling bergelora yang pernah dijalani
Zicko bersama Mba Rien. Seminggu setelah itu, sekolah dimulai dan pertemuan keduanya tak pernah lagi terjadi malam hari. Zicko juga tak lagi bisa sering mengantar-jemput Susi ke tempat latihan menari, karena kini ia punya aktifitas baru: mengantar Alma pulang. Mengerjakan PR bersama. Latihan vocal group untuk acara-acara sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler selepas sekolah. Dan sebagainya.

Mba Rien masih sering mengajak berenang bersama (tetapi Alma tidak pernah ikut karena ia tidak bisa berenang), mereka masih dengan riang saling berlomba mencapai batu karang, mengalahkan Dodi dan Iwan dan Niken yang selalu terlalu banyak tertawa. Mereka juga masih mencari kenari ke hutan, tetapi anehnya tak lagi ada hujan yang menyebabkan mereka terpaksa berteduh di gua. 
Mba Rien seperti lupa tentang apa pun yang terjadi malam itu, seperti halnya ketika ia melupakan kejadian di pantai dan di gua. Segalanya normal-normal saja.

Dan hari-hari pun berlalu dengan cepat, musim berganti dari hujan ke panas, dari basah ke kering.
Ada suatu masa kemarau yang agak panjang, membuat daun-daun menguning dan suasana gerah di mana-mana. Pada masa seperti itu, kota kecil tempat mereka tinggal pun seperti kehilangan energi. Orang-orang jarang mau ke luar rumah, lebih sering duduk-duduk di beranda, atau berteduh di bawah pohon di halaman sendiri. Toko-toko yang jumlahnya memang tidak banyak, juga sepi pengunjung. Babah Ong, pemilik toko kelontong di ujung jalan semakin sering mengomel-mengeluh.

***

Kemarau kali ini membawa cerita lain bagi
Zicko. Ia semakin dekat berhubungan dengan Alma dan semakin jarang bertemu dengan Mba Rien. Bukan apa-apa, tetapi memang suasana panas menghalangi keinginan pergi ke pantai, sementara sungai juga menipis airnya, dan kenari tidak berbuah. Lagipula, setiap kali mengantar Alma pulang, Zicko dipaksa mampir. Ibunda Alma, Nyonya Tuti, seorang bidan satu-satunya di kota itu, menyukai pemuda ini. Ia selalu mempunyai alasan tepat untuk menyuruh Zicko berlama-lama menemani Alma. Misalnya, hari itu ibu yang bertubuh gemuk bulat itu sudah menyediakan es cendol segar. Siapa bisa menolak itu di siang yang begini terik? Tetapi Zicko bersopan-santun, mencoba menolak tawaran menggiurkan itu.

"Ayooo," sergah Alma manja, menarik kelingking
Zicko, menyeretnya masuk ke beranda seperti menyeret anak kambing, "Kamu tadi bilang haus..."

"Sudah siang, Alma," kata
Zicko mencoba berdalih.

Ibu Tuti tertawa mendengar alasan
Zicko, "Setiap hari kalian pulang pukul 1, apa bedanya hari ini?"

"Ayooo," Alma menarik-narik lagi, kali ini pergelangan Kino yang dicekalnya erat-erat.
Terpaksa Zicko melangkah masuk, menunduk menghindari tatapan Ibu Tuti yang seperti mau menggodanya sambil berkata, "Zicko malu sama Ibu, ya? Baiklah kalau begitu Ibu masuk, kalian berdua saja minum cendol itu."

Begitulah, akhirnya
Zicko minum cendol yang memang segar. Berdua saja di beranda yang sepi. Ibunda sudah pergi ke paviluan sebelah, tempatnya membuka praktek KB. Rumah besar yang menghadap jalan kecil menuju pasar ini tampak lengang. Berhadapan, diam-diam, Alma dan Zicko menghabiskan minuman mereka. Sejuk sekali rasanya leher menelan cendol-cendol yang dingin itu.

Zicko menyukai suasana seperti ini, di mana ia bisa berlama-lama berhadapan dengan Alma tanpa siapa-siapa di sekeliling mereka. Wajah Alma yang selalu tampak segar itu (Zicko kadang-kadang membandingkannya dengan buah jeruk manis yang baru dikelupas) selalu sedap dipandang. Apalagi kalau kedua matanya yang bening menatap kepadanya, dengan bulu mata lentik yang jarang berkerejap. Di suasana panas seperti ini, Zicko senang sekali berteduh di sinar mata yang lembut itu. Senang sekali mereguk nada rindu yang mengalun pula dari sana.

"Apa, sih, yang kamu lihat?" sergah Alma sambil menggigit-gigit sendok plastiknya.

"Kamu." jawab Zicko pendek, bertopang dagu dengan satu tangan.

"Setiap hari kamu lihat saya. Tidak bosan?"

Zicko menggeleng. Pertanyaan Zicko, ucapnya dalam hati sambil menahan tawa. Itu pertanyaan yang mengundang tanggapan lebih lanjut, mengundang kata-kata seperti, "tak kan pernah bosan" atau "mana mungkin aku bosan memandangmu" dan yang semacam itu. Zicko mengunci mulutnya, tetapi tidak menyembunyikan senyum di matanya.

"Tidak bosan?" tanya Alma lagi, sudah berhenti menggigit-gigit sendoknya.
Bibirnya yang semakin basah oleh minuman terlihat indah agak berkilauan. Zicko menggeleng lagi. Ia tahu Alma ingin mendengar serentetan kata-kata berbunga tentang ketidak-bosanan, tentang kerinduan yang menerus, tentang keinginan untuk selalu berdua. Tetapi Zicko menguatkan hati. Kadang-kadang ia ingin menyampaikan segala sesuatu yang indah dalam diam. Tanpa kata-kata.

"Betul?" kali ini Alma terdengar penasaran, gemas diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang tak pernah berhenti membuatnya terpesona.
"Kenapa tidak bosan?" tanya Alma.

Zicko menahan senyum. Mengangkat bahu dan tetap mengunci mulutnya. Alma semakin gemas, dan karena tidak tahan lagi, ia bangkit berpindah tempat ke sebelah Zicko. Jemarinya yang halus tiba-tiba saja sudah hinggap di pangkal lengan Zicko, mengancamkan sebuah cubitan.

"Ayo jawab. Atau Alma cubit!" ucapnya sengit.
Zicko pura-pura tidak mendengar, memandang ke luar beranda dan melihat sekeliling. Sepi sekali siang ini. Alma mencubit pelan. Mana tega ia mencubit keras. Zicko meringis pura-pura kesakitan, lalu menoleh memandangi wajah Alma yang kini dekat sekali di sisinya. Aku ingin mencium bibir ranum yang basah itu, ucap Zicko dalam hati. Pasti manis seperti es cendol yang diminumnya.

"Jawab, atau..." bisik Alma lirih, tak meneruskan kalimatnya melihat kedua mata Kino memandangnya dengan penuh rindu. Dekat sekali.

Zicko semakin mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Alma. Gadis itu terdiam, jemarinya berhenti mencubit, berubah menjadi cengkraman lemah. Kino menghela nafas menikmati harum nafas Alma yang hangat menghambur dari mulutnya yang setengah terbuka. Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat. Zicko mencium gadis itu, merasakan manis gula jawa yang tersisa di bibirnya yang basah, mengulum lembut seperti khawatir tindakannya akan menimbulkan gempa bumi.

Alma menyambut ciuman Kino dengan mata terpejam dan dengan kehangatan yang justru mengusir terik kemarau hari itu.

***

Suatu Sabtu di penghujung musim panas,
Zicko menerima sepucuk surat dari Mba Rien yang disampaikan lewat Susi. Ketika itu Zicko baru saja tiba dari bermain voli di lapangan di depan kantor Pak Camat. Dengan tangan masih berpeluh, buru-buru disobeknya sampul putih yang cuma bertuliskan "untuk Zicko di rumah" itu. Di dalamnya, ada sehelai kertas surat biru muda tipis, dan potongan sebuah brosur. Apa ini? tanya Zicko dalam hati, lalu ia mulai membaca.

Adikku Zicko yang cakep... (Zicko tersenyum membaca sapaan ini. Ada rasa rindu menjalar tiba-tiba. Telah lama ia tak berjumpa Mba Rien). Hari Minggu besok, Mba Rien akan pergi ke ibukota. Ada seorang sutradara tari menawarkan peran untuk sebuah pertunjukan besar. Mba Rien tidak tahu berapa lama akan berada di ibukota. Kalau peran itu jadi diberikan kepada Mba Rien, mungkin Mba Rien akan berada di sana lebih dari setahun. (Zicko menelan ludah, merasakan mulutnya kering. Lama sekali, setahun itu!)

Mba Rien ingin mengucapkan selamat tinggal. Rajin-rajinlah belajar agar nanti bisa bersekolah ke institut teknologi yang dulu pernah kamu ceritakan itu. (Jantung
Zicko berdegup kencang. Mengapa tiba-tiba ia merasa dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga?)

Mba Rien tidak akan pernah melupakan kamu. Mba Rien juga tahu kamu akan tetap mengingat Mba Rien. Tetapi jangan lupa mengingat hal-hal lain yang penting dalam hidupmu. Terutama, jangan pernah melupakan cita-citamu, keinginanmu yang tertinggi. (Sampai di sini,
Zicko menghela nafas panjang, merasakan segumpal kesedihan menyumbat kerongkongannya. Apakah ini ucapan perpisahan?)

Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi. Sampaikan salam Mba Rien kepada orang tuamu. Jaga Susi baik-baik, ia seorang yang berbakat tari.


Peluk-cium, Mba Rien

NB : Mba Rien lampirkan potongan brosur pertunjukan tari di ibukota dan alamat sanggarnya. Kalau kamu berkesempatan, tengoklah Mba Rien di sana.

Zicko melihat jam di dinding. Jarum menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu sebelum bertandang ke rumah Alma. Cepat-cepat Zicko berlari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang berkeringat dan berdebu. Seperempat jam kemudian ia sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimum menuju rumah kost Mba Rien. Ia ingin menemui wanita istimewa itu untuk mengucapkan selamat jalan.

***

"Baru saja Mbak Rien pergi, dijemput oleh kakaknya naik mobil." kata Mbak Laras di depan pintu.
Zicko lemas mendengar penjelasan itu.

"Tapi, bukankah ia baru akan berangkat ke ibukota hari Minggu besok?" tanya
Zicko, seperti hendak mempersoalkan benar-tidaknya Mbak Rien telah pergi.

"Betul," jawab Mbak Laras, "Tetapi kakaknya ingin Mbak Rien menginap di rumahnya, sebelum berangkat ke ibukota. Di rumah kakaknya itu telah berkumpul kedua orang tua mereka dan anggota keluarga yang lain. Semacam pesta perpisahan."

"Rumah kakaknya tidak jauh, bukan?" tanya
Zicko, teringat tentang kepergian Mbak Rien sewaktu masa ujian dulu. Kalau tidak salah, jaraknya hanya 6 kilometer.

"Bukan kakaknya yang di dekat sini," kata Mbak Laras, "Yang menjemputnya tadi adalah kakak yang satu lagi, yang tinggal di kota L."

Zicko merasakan bumi tempatnya berpijak bergoyang-goyang. Kota itu jauhnya 100 km dari sini. Ia menunduk lesu, bersandar ke pintu rumah kost, membuat Laras iba. Kasihan pemuda ini, pikir Laras dalam hati, ia pasti sangat kecewa tidak berjumpa ’kakak kesayangan’-nya. Laras bisa membaca hubungan istimewa yang terjalin antara teman kostnya dengan pemuda ini, walau tak pernah tahu seberapa jauh mereka berhubungan. Ia hanya tahu, Rien sangat menyayangi pemuda ini, dan memberlakukannya seperti adik sendiri. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa keduanya pernah bergumul di kamar ketika ia pergi menonton beberapa waktu yang silam.

Setelah mengucapkan permisi,
Zicko meninggalkan rumah kost itu dengan tubuh tanpa daya. Ia tidak menaiki sepedanya, melainkan berjalan saja perlahan-lahan. Hari telah menjelang senja, matahari dipenuhi semburat merah-jingga. Angin semilir seperti mencoba memberikan sedikit saja kesejukan di hari yang panas ini. Baju Zicko basah oleh keringat, karena tadi ia mengeluarkan semua tenaganya untuk cepat-cepat sampai ke rumah kost. Kini ia mengutuk-utuk ajakan Dodi dan Iwan untuk main voli, dan menyesali diri karena menampik permintaan Susi untuk menjemputnya di sanggar. Seandainya tadi aku menjemput Susi, pastilah aku masih sempat bertemu Mbak Rien! umpatnya dalam hati. Sebuah batu agak besar di pinggir jalan ditendangnya. Tentu saja, jempolnya sakit bukan main, sedangkan batu itu tak bergeming.

***

Malamnya, malam minggu yang seharusnya indah, terasa kelabu bagi
Zicko. Ia berusaha menyembunyikan galau di hatinya sekuat tenaga. Tetapi percuma saja menyembunyikan perasaan di depan Alma. Gadis itu punya indra kesepuluh, khusus untuk menembus dinding kalbu Zicko!

Akhirnya
Zicko mengaku dan menceritakan kepergian Mbak Rien. Tidak itu saja, Zicko juga menceritakan hubungannya dengan Mbak Rien, setelah memberlakukan sensor ketat di sana-sini. Alma terdiam mendengarkan cerita itu. Gadis ini memang telah lama menduga bahwa antara Zicko dan wanita itu terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan. Tetapi ia tidak pernah punya bukti, dan kalau ia bertemu Mbak Rien (dan ini sering terjadi), ia selalu menaruh hormat kepada wanita yang tampak selalu ceria tetapi juga penuh wibawa itu. Kini, melihat dan mendengar Zicko bercerita tentangnya, Alma merasa dadanya bergemuruh. Cemburu. Iri. Curiga.

"Kenapa kamu baru cerita sekarang?" tanyanya ketus.

"Karena kamu tidak pernah bertanya," jawab
Zicko, berusaha menyembunyikan kagetnya mendengar Alma berucap dengan nada ketus. Baru kali ini ia mendengar nada itu di suara Alma.

"Kenapa tidak kamu susul ke kota L," ujar Alma, kini dengan nada sinis.

Zicko mengangkat mukanya, memandang Alma lekat-lekat. Benarkah ia berucap seperti itu, sinis begitu? Zicko menemukan sebuah wajah dingin, dengan bibir terkatup rapat membentuk garis tipis yang tegas. Jelas sekali, Alma yang manis dan lembut itu kini sedang meradang. Marah.

Pukul 8 malam, hanya setengah jam dari waktu kedatangannya,
Zicko berpamitan. Alma tidak mengantar ke gerbang seperti biasa. Tidak membiarkan bibirnya dikecup. Tidak melambai. Zicko berjalan gontai pulang ke rumah. Ia merasa, sebuah babak dalam kehidupannya usai sudah. Panggung sudah kembali diterangi lampu-lampu. Penonton sudah bertepuk tangan. Pemain telah berganti pakaian dan pulang ke rumah masing-masing.

Di langit banyak sekali ada bintang.
Zicko menengadah. Ia menyerah pada Sang Sutradara di atas sana. Babak pertama telah selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar